PSPK 1 – Persyaratan Umum terhadap Sumber Panduan: Cara Cerdas Menemukan, Memilah, dan Menerapkan Rujukan yang Tepat

Inti pesan PSPK 1 mengenai sumber panduan sangat jelas: taati SPK yang relevan, wajib rujuk SASB untuk kekhususan industri, dan manfaatkan CDSB serta sumber kredibel lain untuk menutup celah informasi.

oleh Admin BATS
8 menit baca
155 dilihat
Bagikan:
PSPK 1 – Persyaratan Umum terhadap Sumber Panduan: Cara Cerdas Menemukan, Memilah, dan Menerapkan Rujukan yang Tepat

Di tengah lanskap bisnis yang semakin menuntut transparansi, Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan 1 (PSPK 1) hadir sebagai "papan induk" atau fondasi utama bagi perusahaan di Indonesia. Standar ini mengatur bagaimana entitas harus menyusun pengungkapan keuangan terkait keberlanjutan—yang cakupannya melampaui isu iklim—secara konsisten, dapat diaudit, dan paling penting, bermanfaat bagi para pengambil keputusan.

Salah satu poros terpenting dalam PSPK 1 adalah persyaratan umum mengenai sumber panduan (sources of guidance). Ketika perusahaan mengidentifikasi risiko dan peluang terkait keberlanjutan yang diperkirakan secara wajar dapat memengaruhi prospeknya, ada hierarki rujukan yang harus diikuti. Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) yang berlaku wajib menjadi rujukan pertama. Jika diperlukan, ini harus dilengkapi dengan standar industri dari SASB, panduan aplikasi dari CDSB, serta sumber kredibel lainnya.

Artikel ini akan menelaah secara mendalam: apa saja sumber panduan yang diwajibkan dan diizinkan, kapan harus menggunakannya, bagaimana menilainya, dan apa implikasi praktisnya bagi perusahaan di Indonesia.

Sebagai konteks, PSPK 1 diadopsi dengan merujuk pada substansi IFRS S1 General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information. Artinya, logika “wajib rujuk SPK, lalu tambah rujukan industri” sepenuhnya sinkron dengan arsitektur yang dibangun oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) secara global.

1. Rantai Rujukan: Dari SPK ke SASB dan CDSB

PSPK 1 menetapkan sebuah "rantai rujukan" yang tertib untuk memastikan pengungkapan yang relevan dan dapat dibandingkan.

a) Prioritas Utama: Terapkan Dulu SPK yang Relevan

Aturan pertama sangat jelas: saat mengidentifikasi risiko dan peluang keberlanjutan yang signifikan, entitas harus menerapkan persyaratan dalam SPK yang relevan. Misalnya, untuk isu iklim, perusahaan harus merujuk pada PSPK 2 (setara IFRS S2). Ini berarti, sebelum melirik sumber lain, ketentuan spesifik dalam standar tematik harus dipenuhi terlebih dahulu. Pendekatan ini sejalan dengan mandat IFRS S1 untuk menghasilkan informasi yang benar-benar decision-useful bagi investor dan kreditur.

b) Langkah Wajib Berikutnya: Merujuk Topik Pengungkapan SASB Standards

Setelah menerapkan SPK yang relevan, perusahaan wajib merujuk dan mempertimbangkan penerapan topik pengungkapan dalam SASB Standards. Mengapa SASB? Karena standar ini dirancang spesifik per industri, sehingga membantu perusahaan mengidentifikasi risiko dan peluang yang paling mungkin memengaruhi model bisnis dan kinerja keuangannya. PSPK 1 bahkan menyediakan panduan praktis untuk menggunakan SASB, mulai dari menemukan industri yang tepat melalui Sustainable Industry Classification System (SICS®), memahami topik, metrik, protokol teknis, hingga metrik aktivitas yang relevan.

Namun, ada catatan penting: PSPK 1 mengakui bahwa tidak semua topik SASB akan berlaku untuk setiap perusahaan dalam suatu industri. Beberapa topik bisa jadi kurang relevan karena model bisnis yang unik. Sebaliknya, mungkin ada risiko atau peluang material yang belum tercakup dalam SASB. Di sinilah perlunya melengkapi dengan sumber lain.

c) Pelengkap Strategis: Panduan Aplikasi CDSB (Air & Keanekaragaman Hayati)

Untuk memperkaya pengungkapan, khususnya pada isu air dan keanekaragaman hayati, PSPK 1 mengizinkan perusahaan untuk merujuk pada CDSB Framework Application Guidance for Water and Biodiversity-related disclosures. Panduan ini boleh digunakan selama tidak bertentangan dengan SPK. Kegunaannya mencakup identifikasi risiko/peluang hingga penentuan metrik dan target yang melintasi empat "konten inti": tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target.

Sebagai contoh, dari panduan CDSB, perusahaan dapat memperoleh wawasan tentang:

  • Risiko Keanekaragaman Hayati: Penurunan kesuburan tanah, gangguan pada jasa penyerbukan, atau risiko regulasi terkait perizinan lahan.

  • Peluang terkait Air: Inovasi efisiensi air, pengembangan produk/jasa baru untuk konservasi, atau peluang dari restorasi ekosistem.

  • Contoh Metrik: Volume air yang digunakan di daerah rawan kekeringan atau persentase bahan baku yang bersumber dari area yang diverifikasi tidak menyebabkan deforestasi.

Rujukan ke CDSB ini konsisten dengan IFRS S1 yang mendorong penggunaan panduan kredibel untuk meningkatkan kualitas keterungkapan informasi.

2. Ketika Tidak Ada PSPK yang Spesifik: Gunakan Pertimbangan, Tetap Tertib

Bagaimana jika perusahaan menghadapi risiko atau peluang keberlanjutan yang material, namun belum ada SPK tematik yang mengaturnya (misalnya, isu sosial spesifik seperti hak tenaga kerja di rantai pasok atau dampak pada masyarakat adat)?

Di sinilah pertimbangan manajemen (management's judgment) memegang peran krusial. Namun, pertimbangan ini tidak boleh dilakukan secara serampangan. PSPK 1 menetapkan dua tujuan utama:

  1. Informasi yang dihasilkan harus relevan dengan kebutuhan pengambilan keputusan pengguna laporan.

  2. Informasi tersebut harus memberikan representasi tepat (faithful representation) atas risiko dan peluang yang dihadapi entitas.

Untuk itu, PSPK 1 mengarahkan agar pertimbangan tersebut didasarkan pada sumber-sumber berikut (dalam urutan prioritas):

  • SASB Standards untuk mencari metrik yang terkait.

  • CDSB Framework Application Guidance.

  • Pernyataan terbaru dari badan standar lain yang dirancang untuk pengguna laporan keuangan bertujuan umum.

  • Praktik pengungkapan dari entitas setara di industri atau wilayah geografis yang sama.

Transparansi adalah kunci. Perusahaan harus menjelaskan pertimbangan-pertimbangan kunci yang dibuat, termasuk alasan pemilihan sumber panduan, agar pengguna laporan memahami konteks dan dasar penyusunan informasi.

3. Metodologi “Deep Research” yang Disarankan

Untuk memastikan proses yang efisien dan selaras dengan PSPK 1, perusahaan dapat mengikuti alur kerja penelitian berikut:

  1. Pemetaan Topik → Standar Tematik: Selalu mulai dengan memeriksa apakah ada PSPK tematik yang berlaku (seperti PSPK 2 untuk iklim). Jika ada, penuhi seluruh persyaratannya terlebih dahulu.

  2. Klasifikasi Industri → SASB “Find Your Industry”: Gunakan alat SICS untuk mengidentifikasi standar SASB yang paling relevan. Jika model bisnis bersifat hibrida (misalnya, perusahaan energi dengan unit agribisnis), pertimbangkan untuk menggunakan lebih dari satu standar SASB. Fokus pada topik dan metrik yang memiliki dampak finansial nyata (capex, opex, revenue).

  3. Evaluasi Kelengkapan Topik → CDSB & Sumber Lain: Untuk topik seperti air dan keanekaragaman hayati, perdalam analisis menggunakan CDSB Application Guidance. Identifikasi kesenjangan informasi lain dan rujuk dokumen dari badan standar kredibel lainnya untuk memperkaya metrik atau definisi, selama tidak bertentangan dengan SPK. Publikasi dari lembaga seperti GRI (Global Reporting Initiative) atau panduan dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) dapat menjadi sumber yang relevan di sini.

  4. Dokumentasikan Pertimbangan & Referensi Silang: Buat catatan yang jelas mengenai setiap keputusan: mengapa topik A dari SASB dianggap material, mengapa topik B tidak, dan mengapa metrik dari sumber eksternal C digunakan. PSPK 1 memperbolehkan referensi silang ke laporan lain (misalnya, laporan tahunan), selama informasi tersebut tersedia bagi pengguna pada saat yang sama dan mudah diakses.

4. Fondasi Riset yang Efektif: "Informasi Wajar dan Terdukung"

PSPK 1 mewajibkan perusahaan menggunakan seluruh informasi yang wajar dan terdukung (reasonable and supportable information) yang tersedia tanpa biaya atau upaya yang berlebihan (undue cost or effort). Ini adalah prinsip kepraktisan.

  • Sumber Internal: Sistem Enterprise Risk Management (ERM), risk register, data dari divisi Environment, Health, and Safety (EHS), data pengadaan, analisis FP&A, hingga data perpajakan.

  • Sumber Eksternal: Statistik pemerintah, riset asosiasi industri, laporan dari lembaga ilmiah, atau database pihak ketiga yang kredibel.

Penting juga untuk melakukan penilaian ulang. Ketika terjadi peristiwa material atau perubahan kondisi yang signifikan (misalnya, disrupsi rantai pasok akibat geopolitik atau pemberlakuan regulasi lingkungan baru), ruang lingkup risiko, peluang, dan sumber panduan yang digunakan harus ditinjau kembali agar pelaporan tetap relevan.

5. Menyatukan Semuanya: Kekuatan "Informasi Terhubung"

Tujuan akhir dari semua ini bukan sekadar menghasilkan daftar metrik. PSPK 1, seperti halnya IFRS S1, menekankan pentingnya "informasi terhubung" (connected information). Artinya, perusahaan harus mampu menjahit benang merah antara:

  • Narasi mengenai risiko dan peluang (Strategi).

  • Metrik dan target kuantitatif yang digunakan untuk mengukur dan mengelola (Metrik & Target).

  • Dampak finansial yang diantisipasi dan aktual terhadap posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas.

Contoh konkret: Sebuah perusahaan ritel mengidentifikasi risiko transisi berupa perubahan preferensi konsumen ke produk ramah lingkungan. Narasi ini harus terhubung dengan:

  • Strategi: Rencana investasi pada R&D untuk produk baru dan restrukturisasi rantai pasok.

  • Metrik & Target: Target persentase pendapatan dari produk "hijau" dalam tiga tahun ke depan.

  • Dampak Finansial: Alokasi capex untuk fasilitas baru, potensi penurunan nilai (impairment) aset lama, dan proyeksi perubahan margin keuntungan.

Studi Kasus Singkat: Perusahaan Agri-pangan di Indonesia

Bayangkan sebuah perusahaan agri-pangan terintegrasi. Tim pelaporannya akan memulai dengan PSPK 2 untuk risiko dan peluang terkait iklim. Selanjutnya, mereka menggunakan SASB Agricultural Products Standard dan Processed Foods Standard untuk mengidentifikasi topik material lain seperti manajemen air, keamanan pangan, dan kesehatan tenaga kerja. Untuk topik air, mereka merujuk CDSB Water Guidance untuk menyesuaikan metrik dengan kondisi geografis operasional mereka yang beberapa di antaranya berada di wilayah rawan air. Hasilnya adalah pengungkapan yang koheren dan terhubung, menjelaskan bagaimana risiko kekurangan air dikelola melalui tata kelola (komite keberlanjutan), strategi (investasi teknologi irigasi efisien), dan diukur melalui metrik spesifik lokasi yang dilaporkan secara konsisten.

Penutup: Dari Kepatuhan Menuju Keunggulan Analitis

Inti pesan PSPK 1 mengenai sumber panduan sangat jelas: taati SPK yang relevan, wajib rujuk SASB untuk kekhususan industri, dan manfaatkan CDSB serta sumber kredibel lain untuk menutup celah informasi. Kunci suksesnya terletak pada dokumentasi pertimbangan yang solid, kemampuan menghubungkan narasi, metrik, dan keuangan, serta fondasi riset yang berbasis informasi wajar dan terdukung.

Dengan pendekatan ini, laporan keberlanjutan Anda bukan hanya sekadar dokumen kepatuhan, tetapi sebuah alat analitis yang tajam dan bernilai strategis bagi para pengambil keputusan.


Bagaimana BATS Consulting Dapat Membantu Anda?

Menerapkan hierarki rujukan PSPK 1 seringkali menimbulkan tantangan praktis. Banyak perusahaan tersandung pada tiga hal: (1) memilih kombinasi standar SASB yang tepat untuk model bisnis multi-segmen, (2) merakit metrik yang relevan dan benar-benar decision-useful, dan (3) menghubungkan narasi keberlanjutan dengan angka-angka keuangan agar lolos uji materialitas dan audit.

Tim BATS Consulting hadir untuk mengubah tantangan ini menjadi keunggulan kompetitif. Layanan kami meliputi:

  • Gap Assessment & Materiality Mapping: Analisis komprehensif terhadap kesiapan Anda dalam memenuhi PSPK 1/PSPK 2 dan IFRS S1/S2, termasuk pemetaan risiko dan peluang menggunakan pendekatan multi-SASB yang disesuaikan.

  • Penyusunan Konten Inti yang Terhubung: Kami membantu Anda membangun narasi yang kuat untuk pilar tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik & target yang terintegrasi langsung dengan rencana dan proyeksi keuangan.

  • Kustomisasi Metrik dan Penyiapan Data: Kami memandu pemilihan dan penyesuaian metrik dari SASB dan CDSB yang sesuai dengan lokasi geografis dan rantai nilai Anda, lengkap dengan desain proses dan kontrol data yang andal.

  • Audit-Ready Documentation Playbook: Kami membantu menyusun dokumentasi pertimbangan (why this topic, why not that metric) agar proses pelaporan Anda siap diaudit, efisien, dan mudah direplikasi setiap periode.

    Siap mengubah kewajiban pelaporan menjadi keunggulan strategis? Hubungi BATS Consulting untuk sesi asesmen cepat dan diskusi mengenai rencana implementasi yang paling sesuai untuk industri Anda.

This article is also available in English. Switch to English