PSPK 1: Mengubah Angka Menjadi Narasi Keberlanjutan Melalui Metrik & Target

Pilar keempat inilah yang menjadi jantung dari pelaporan, karena mengubah narasi kualitatif menjadi bukti kuantitatif yang terukur.

oleh Admin BATS
6 menit baca
379 dilihat
Bagikan:
PSPK 1: Mengubah Angka Menjadi Narasi Keberlanjutan Melalui Metrik & Target

Di tengah lanskap bisnis global yang semakin menuntut transparansi, pengungkapan keberlanjutan telah berevolusi. Ia bukan lagi sekadar laporan pelengkap, melainkan komponen inti dari strategi dan penciptaan nilai jangka panjang. Di Indonesia, tonggak penting telah ditetapkan melalui PSPK 1: Persyaratan Umum Pengungkapan Informasi Keuangan Terkait Keberlanjutan. Standar ini menjadi fondasi baru bagi perusahaan untuk melaporkan kinerja keberlanjutan mereka secara terstruktur, relevan, dan dapat diperbandingkan.

Berlaku efektif untuk periode pelaporan yang dimulai pada 1 Januari 2027 (dengan penerapan dini dianjurkan), PSPK 1 dirancang selaras dengan arsitektur global dari International Sustainability Standards Board (ISSB), khususnya IFRS S1. Keselarasan ini memastikan bahwa perusahaan Indonesia dapat berbicara dalam "bahasa" keberlanjutan yang sama dengan pasar modal global.

Fokus utama dari standar ini adalah empat pilar pengungkapan: Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, serta Metrik dan Target. Pilar keempat inilah yang menjadi jantung dari pelaporan, karena mengubah narasi kualitatif menjadi bukti kuantitatif yang terukur. Artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana PSPK 1 memandu perusahaan dalam memilih, mendefinisikan, dan melaporkan metrik dan target keberlanjutan secara efektif.

Metrik & Target: Urat Nadi Pengungkapan yang Kredibel

Tujuan pengungkapan metrik dan target sangat jelas: memberikan pemahaman kepada pengguna laporan—terutama investor—mengenai kinerja perusahaan dalam mengelola risiko dan peluang terkait keberlanjutan (Sustainability-related Risks and Opportunities - SROs). Angka-angka inilah yang membuktikan apakah strategi keberlanjutan perusahaan benar-benar berjalan, sejauh mana kemajuan yang telah dicapai, dan apakah perusahaan berada di jalur yang tepat untuk memenuhi komitmennya.

PSPK 1 mewajibkan entitas untuk mengungkapkan dua kategori metrik untuk setiap SRO yang dianggap material:

  1. Metrik yang disyaratkan oleh PSPK topikal yang relevan (contohnya, metrik emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam PSPK 2 tentang Iklim).

  2. Metrik yang digunakan secara internal oleh entitas untuk mengukur dan memantau kinerja serta progres pencapaian target.

Menavigasi Ketiadaan Standar: Cara Memilih Metrik yang Tepat

Salah satu tantangan terbesar adalah ketika SRO yang material belum diatur oleh PSPK topikal yang spesifik. Dalam situasi ini, PSPK 1 tidak membiarkan perusahaan dalam ketidakpastian. Standar ini mengharuskan perusahaan menggunakan pertimbangan profesional untuk mengidentifikasi metrik yang relevan dan merepresentasikan SRO tersebut secara akurat.

Prosesnya merujuk pada hierarki sumber yang kredibel:

  1. SASB Standards: Standar dari Sustainability Accounting Standards Board menjadi rujukan utama. Alasannya kuat: SASB menyediakan metrik berbasis industri yang spesifik dan terbukti relevan bagi investor. Sebagai bagian dari IFRS Foundation, SASB menjadi jembatan praktis untuk implementasi standar ISSB.

  2. Sumber Kredibel Lainnya: Jika SASB tidak mencakup SRO terkait, perusahaan dapat merujuk pada kerangka kerja lain seperti Panduan Aplikasi CDSB (Climate Disclosure Standards Board) atau sumber-sumber yang diakui secara global, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dalam Standar Pelaporan Keberlanjutan (SPK).

Kunci utamanya adalah transparansi: perusahaan wajib secara eksplisit menyatakan standar atau panduan mana yang diadopsi.

Anatomi Pengungkapan "Metrik" dan "Target" yang Komprehensif

PSPK 1 menuntut lebih dari sekadar penyajian angka. Setiap metrik harus disertai konteks yang kaya untuk memastikan pemahaman yang utuh.

Untuk Metrik, pengungkapan harus mencakup:

  • Definisi Rinci: Jika metrik dikembangkan sendiri, jelaskan definisinya, apakah bersifat absolut (misal, total limbah dalam ton), relatif/intensitas (misal, konsumsi air per unit produksi), atau kualitatif.

  • Metodologi: Jelaskan metode perhitungan, input utama, dan asumsi signifikan yang digunakan. Menurut GHG Protocol, transparansi metodologi adalah salah satu prinsip utama akuntansi GRK yang andal.

  • Validasi Eksternal: Ungkapkan apakah metrik tersebut telah diverifikasi oleh pihak ketiga yang independen.

  • Konsistensi: Jaga konsistensi definisi dan metode perhitungan antar periode. Jika ada perubahan, berikan penjelasan yang memadai.

Untuk Target, pengungkapan harus lengkap, meliputi:

  • Spesifikasi: Metrik yang digunakan untuk menetapkan target, sifat target (kuantitatif/kualitatif), periode pencapaian, dan periode dasar (baseline).

  • Tonggak Sejarah (Milestones): Target jangka menengah atau interim untuk memantau progres.

  • Analisis Kinerja: Kinerja aktual dibandingkan target, disertai analisis tren dan faktor pendorong atau penghambat.

  • Konteks Iklim (PSPK 2): Untuk target iklim, jelaskan apakah target bersifat absolut atau intensitas, cakupan emisi GRK (Scope 1, 2, 3), dan rencana penggunaan kredit karbon untuk mencapai target neto (net target).

Menghubungkan PSPK 1 dengan Ekosistem Pelaporan Global

PSPK 1 dan PSPK 2 tidak berdiri sendiri. Keduanya adalah bagian dari ekosistem pelaporan global. PSPK 2, yang mengadopsi IFRS S2, secara eksplisit mewajibkan pengukuran emisi GRK sesuai dengan GHG Protocol: A Corporate Accounting and Reporting Standard. Untuk emisi Scope 3, acuannya adalah GHG Protocol Corporate Value Chain (Scope 3) Standard. Penguasaan GHG Protocol menjadi prasyarat mutlak untuk kepatuhan.

Lebih jauh, bagi perusahaan yang beroperasi di yurisdiksi lain seperti Uni Eropa, memahami European Sustainability Reporting Standards (ESRS), khususnya ESRS E1, menjadi penting. ESRS E1 menekankan keselarasan target pengurangan emisi perusahaan dengan lintasan pemanasan global 1,5°C, memberikan tolok ukur ambisi yang dapat digunakan sebagai pembanding.

Praktik Terbaik dan Jebakan yang Harus Dihindari

  1. Keterhubungan Informasi: Pastikan metrik dan target terhubung secara logis dengan narasi tata kelola, strategi, manajemen risiko, dan dampaknya pada laporan keuangan. Hindari silo informasi.

  2. Hindari Agregasi yang Menyesatkan: Jangan menggabungkan data yang dapat menyembunyikan isu material. Contoh klasik adalah melaporkan total penarikan air tanpa memisahkannya berdasarkan lokasi yang mengalami kelangkaan air (water-stressed regions).

  3. Transparansi Metodologi: Jika mengembangkan metrik internal, "buka kotak hitamnya". Jelaskan definisi, metode, dan keterbatasannya. Ini adalah kunci untuk membangun kepercayaan.


Siap Menavigasi Kompleksitas PSPK 1? BATS Consulting Adalah Mitra Anda

Mengimplementasikan PSPK 1, terutama dalam membangun sistem metrik dan target yang solid, adalah perjalanan yang kompleks. Banyak perusahaan menghadapi tantangan signifikan dalam:

  • Pemilihan metrik yang relevan dengan industri dan material bagi investor.

  • Tata kelola data yang rumit untuk memastikan akurasi, konsistensi, dan kesiapan data untuk diverifikasi (assurance-ready).

  • Perhitungan emisi GRK (Scope 1, 2, dan 3) yang akurat dan sesuai dengan standar GHG Protocol.

  • Penetapan target berbasis sains yang kredibel dan selaras dengan ekspektasi global.

  • Mengintegrasikan pengungkapan keberlanjutan dengan laporan keuangan untuk menyajikan pandangan holistik atas kinerja perusahaan.

BATS Consulting, bersama afiliasinya BATS Sustainability Assurer, hadir sebagai mitra strategis Anda untuk menavigasi tantangan ini. Kami menyediakan layanan komprehensif dari hulu ke hilir:

  • Gap Assessment PSPK 1/2 & ISSB: Menganalisis kesiapan perusahaan Anda dan memfasilitasi penilaian materialitas berbasis industri menggunakan SASB Standards.

  • Perancangan Register Metrik & Tata Kelola Data: Membantu Anda mendefinisikan metrik, membangun kontrol internal, dan menyiapkan infrastruktur data yang andal.

  • Inventarisasi GRK & Desain Target Iklim: Melakukan perhitungan emisi Scope 1, 2, dan 3 sesuai GHG Protocol serta membantu merancang target yang kredibel dan terukur.

  • Penyusunan Laporan Terhubung: Membantu Anda menyusun laporan keberlanjutan yang terintegrasi, koheren, dan memenuhi persyaratan pengungkapan.

  • Pelatihan dan Change Management: Membekali tim Anda dengan kapabilitas yang dibutuhkan untuk implementasi jangka panjang.

Jangan biarkan kompleksitas regulasi menghambat perjalanan keberlanjutan Anda. Mari berdiskusi untuk menyusun peta jalan yang praktis dan dapat dieksekusi untuk perusahaan Anda. Hubungi BATS Consulting hari ini dan berdayakan langkah Anda selanjutnya.


This article is also available in English. Switch to English