PSPK 1: Cara Tepat “Menyebut Rujukan” dalam Pengungkapan Keuangan Terkait Keberlanjutan
Intinya: pembaca harus tahu 'Anda pakai rujukan apa, dari mana, dan untuk industri apa' agar metrik dan narasi yang dipilih terbaca konsisten secara metodologis dan relevan secara ekonomi.
Lanskap pelaporan korporat sedang mengalami transformasi fundamental. Pelaporan keberlanjutan tidak lagi menjadi lampiran “nice-to-have” dalam laporan tahunan. Dengan diperkenalkannya PSPK 1 (Persyaratan Umum Pengungkapan Keuangan Terkait Keberlanjutan) oleh DSAK IAI, yang mengadopsi penuh IFRS S1, Indonesia telah mengambil langkah besar untuk menyelaraskan pengungkapan keberlanjutan dengan tuntutan pasar modal global.
Fokusnya jelas: menyediakan informasi yang decision-useful bagi investor. Namun, untuk menjadi decision-useful, informasi harus kredibel, dapat dibandingkan, dan dapat diverifikasi.
Jika Anda sedang menyiapkan pengungkapan keuangan terkait keberlanjutan, PSPK 1 meminta satu hal mendasar namun sering luput: jelaskan secara spesifik sumber-sumber panduan yang Anda pakai dan jelaskan industri/kerangka industri apa yang Anda rujuk saat memilih metrik. Transparansi metodologis ini adalah fondasi dari seluruh laporan.
Artikel ini memadatkan inti persyaratan tersebut, konteks standar globalnya, serta kiat penerapan yang bisa langsung dipakai oleh tim pelaporan Anda.
Apa yang “Wajib Disebut” Menurut PSPK 1?
PSPK 1, yang sejalan dengan IFRS S1, memperkenalkan konsep "building block". Standar ini adalah "fondasi" yang menetapkan kerangka kerja umum, namun ia mengandalkan "blok bangunan" lain—standar yang sudah ada—untuk mengisi detail spesifik, terutama yang berkaitan dengan industri.
Oleh karena itu, PSPK 1 (Persyaratan Umum) mensyaratkan entitas untuk mengidentifikasi, secara spesifik:
Standar, pernyataan, praktik industri, dan sumber panduan lain yang diterapkan dalam menyusun pengungkapan keuangan terkait keberlanjutan. Ini termasuk, bila relevan, topik pengungkapan spesifik dalam SASB Standards.
Industri yang ditentukan dalam SPK (Standar Pengungkapan Keberlanjutan) yang relevan, SASB Standards, atau panduan industri lain yang digunakan untuk menyusun pengungkapan, termasuk saat mengidentifikasi metrik yang berlaku.
Intinya: pembaca (investor, analis, dan regulator) harus tahu dengan pasti “Anda pakai rujukan apa, dari mana, dan untuk industri apa”.
Tanpa kejelasan ini, metrik dan narasi yang dipilih tidak dapat terbaca secara konsisten. Pembaca tidak tahu apakah "penurunan intensitas air" sebesar 10% itu baik atau buruk, atau apakah metrik tersebut dihitung dengan cara yang sama seperti perusahaan sejenis.
Kewajiban “menyebut sumber” ini selaras dengan paragraf inti dalam IFRS S1—standar global dari ISSB yang menjadi rujukan utama PSPK 1. IFRS S1 mengharuskan entitas mengungkap sumber-sumber yang dipakai dalam menyiapkan pengungkapan dan panduan berbasis industri (seperti SASB) yang dirujuk ketika memilih topik dan metrik yang relevan secara finansial.
Mengapa Rujukan Harus Eksplisit? Tiga Pilar Kredibilitas
Menyebutkan sumber panduan secara eksplisit dalam bagian "Dasar Penyusunan" (Basis of Preparation) bukan sekadar formalitas kepatuhan; ini adalah pilar yang menopang seluruh kegunaan laporan.
1. Kredibilitas & Dapat Diaudit (Auditability)
Saat Anda menyebut, "Kami menggunakan metrik SASB EM-CM-110a.1," Anda memberikan "jejak audit" (audit trail) yang jelas. Auditor, penjamin (assurance provider), dan analis dapat menelusuri rujukan tersebut ke protokol teknis SASB untuk memverifikasi definisi, metodologi perhitungan, dan asumsi yang digunakan. Ini sejalan dengan tujuan utama IFRS S1: membuat pengungkapan berguna bagi investor dalam pengambilan keputusan. Tanpa sumber yang jelas, data tersebut menjadi "kotak hitam" yang tidak dapat diverifikasi.
2. Keterbandingan Lintas Industri (Comparability)
Kekuatan terbesar dari SASB Standards adalah sifatnya yang industry-based. Risiko dan peluang keberlanjutan sebuah bank sangat berbeda dari perusahaan tambang batu bara. Dengan menyebutkan industri spesifik menurut taksonomi SASB/ISSB (Sustainable Industry Classification System® atau SICS®) dan topik yang relevan, pembaca dapat membandingkan kinerja Anda secara apple-to-apple dengan emiten lain dalam industri yang sama. Keterbandingan adalah mata uang utama di pasar modal.
3. Kepatuhan Lokal dan Ekspektasi Regulator
Di Indonesia, kita tidak memulai dari nol. POJK 51/2017 telah mewajibkan LJK, Emiten, dan Perusahaan Publik menyampaikan laporan keberlanjutan. PSPK 1 kini hadir untuk memperkuat dan menyelaraskan praktik ini dengan ekspektasi global. Dengan mengacu pada standar/rujukan yang jelas (seperti PSPK 1 dan SASB), laporan Anda tidak hanya memenuhi ekspektasi pasar global tetapi juga menunjukkan kepatuhan yang matang terhadap mandat regulasi lokal (OJK).
Rujukan Utama yang Lazim Dipakai (dan Bagaimana Menulisnya)
Dalam ekosistem pelaporan IFRS S1/PSPK 1, ada tiga "pilar" rujukan yang paling sering muncul.
1. SASB Standards (Industry-based)
Kapan dipakai: Selalu dipakai untuk memilih topik material dan metrik berbasis industri yang spesifik dan relevan secara finansial. Contohnya: intensitas energi dan emisi GRK untuk industri Semen; keselamatan kendaraan untuk Otomotif; atau akses & keterjangkauan untuk Telekomunikasi.
Cara menyebutnya: “Entitas menerapkan SASB Standards—Industry: [nama SICS, misal: ‘Metals & Mining’]—dan topik [nama topik, misal: ‘Water Management’], dengan metrik [kode metrik, misal: ‘EM-MM-140a.1’], mengacu pada Technical Protocols yang berlaku.”
Sumber resmi: Laman IFRS Foundation menyediakan Materiality Finder untuk menelusuri topik dan metrik per industri.
2. CDSB Framework Application Guidance (Tematik: Air & Keanekaragaman Hayati)
Kapan dipakai: Saat risiko atau peluang terkait air atau keanekaragaman hayati bersifat material (signifikan). Ini umum terjadi pada sektor agrikultur, ekstraktif, FMCG, atau manufaktur tertentu. Sejak CDSB (Climate Disclosure Standards Board) terkonsolidasi ke dalam IFRS Foundation, panduannya menjadi rujukan otoritatif.
Cara menyebutnya: “Mengingat materialitas risiko air, Entitas merujuk pada CDSB Framework Application Guidance for Water-related Disclosures untuk menstruktur narasi risiko, menyajikan indikator kontekstual, dan mengaitkan dampak ke posisi keuangan.”
Sumber resmi: Panduan ini kini di-hosting di laman IFRS Foundation sebagai sumber daya tambahan.
3. IFRS S1 / PSPK 1 – General Requirements
Kapan dipakai: Selalu sebagai kerangka kerja umum (general framework). Ini adalah "induk" yang mengatur empat pilar pengungkapan (Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, serta Metrik & Target) dan menetapkan persyaratan kualitas informasi (lengkap, netral, bebas kesalahan, keterbandingan).
Cara menyebutnya: “Pengungkapan keuangan terkait keberlanjutan ini disusun sesuai dengan PSPK 1 (IFRS S1) sebagai kerangka umum. Penentuan topik dan metrik berbasis industri mengikuti SASB Standards.”
Tip Cepat: Gunakan alat “Find your industry” di situs IFRS/SASB untuk memetakan perusahaan Anda ke industri SICS yang tepat. Kemudian, singgung pemetaan dan justifikasi pemilihan industri tersebut di bagian “Dasar Penentuan Topik & Metrik” dalam laporan Anda.
Contoh Formulasi Pengungkapan yang "Patuh PSPK 1"
Berikut adalah contoh bagaimana sub-bab "Dasar Penyusunan" dapat diformulasikan untuk memenuhi persyaratan PSPK 1.
Dasar Rujukan & Penentuan Metrik
Dalam menyusun pengungkapan keuangan terkait keberlanjutan, Perseroan menerapkan PSPK 1 (Persyaratan Umum Pengungkapan Keuangan Terkait Keberlanjutan) sebagai kerangka umum. Untuk penentuan topik material dan metrik berbasis industri yang spesifik, Perseroan merujuk pada SASB Standards – [Nama Industri SICS, misal: ‘Food Retailers & Distributors’] (edisi terkini).
Mengingat signifikansi risiko ketersediaan air dan dampak rantai pasok pada operasi hulu, Perseroan juga merujuk CDSB Framework Application Guidance for Water-related Disclosures guna memperkuat penilaian dampak finansial dan narasi risiko terkait sumber daya air.
Identifikasi Industri
Perseroan mengklasifikasikan aktivitas usaha utamanya pada industri SICS: [Kode–Nama, misal: ‘FB-FR – Food Retailers & Distributors’] (SASB/ISSB) berdasarkan analisis dominasi pendapatan dan model bisnis inti. Klasifikasi ini digunakan sebagai dasar untuk memilih topik dan metrik SASB yang relevan secara finansial.
Formulasi lugas seperti di atas telah memenuhi dua ayat kunci PSPK 1: (1) menyebut sumber panduan yang digunakan, dan (2) menyebut industri yang dijadikan basis pemilihan metrik.
Langkah Implementasi yang Praktis (5 Tahap)
Bagaimana tim Anda dapat bergerak dari teori ke praktik? Berikut 5 langkah praktis:
Petakan Model Bisnis & Jejak Risiko. Mulai dengan pemetaan rantai nilai dan identifikasi risiko/peluang keberlanjutan. Dengan IFRS S1/PSPK 1 sebagai kerangka umum, fokuslah pada isu-isu yang “cukup dapat memengaruhi prospek” (reasonable expectation to affect prospects) arus kas, akses pendanaan, atau biaya modal.
Tetapkan Industri SASB & Topik. Gunakan Find your industry atau Materiality Finder dari IFRS/SASB. Identifikasi topik dan metrik yang paling relevan secara finansial untuk industri Anda. Penting: Dokumentasikan judgement (alasan pemilihan) jika perusahaan Anda beroperasi di banyak industri (konglomerat) atau jika Anda memilih untuk tidak melaporkan topik SASB tertentu.
Tambahkan Panduan Tematik (CDSB) Sesuai Kebutuhan. Jika air, keanekaragaman hayati, atau isu tematik lain (di luar iklim/PSPK 2) teridentifikasi material pada Langkah 1, gunakan CDSB Application Guidance untuk menstruktur narasi, indikator kontekstual (mis. operasi di daerah aliran sungai yang stres air), dan pengaitan ke dampak finansial dalam laporan utama.
Selaraskan dengan Regulasi Lokal (POJK 51). Lakukan gap analysis. Pastikan konten, cakupan, dan periode pelaporan sinkron dengan kewajiban pelaporan keberlanjutan OJK (bagi LJK, Emiten, Perusahaan Publik). PSPK 1 dan POJK 51 tidak bertentangan; PSPK 1 memberikan struktur dan fokus investor yang lebih tajam. Cantumkan rujukan POJK pada bagian “Kepatuhan Regulasi”.
Tuliskan Bagian “Basis Penyusunan” yang Eksplisit. Jangan sembunyikan informasi ini. Buat sub-bab khusus yang dengan jelas menyebut daftar rujukan (PSPK 1, SASB—nama industri & topik, CDSB—tema spesifik), versi/dokumen yang digunakan, dan alasan mengapa rujukan itu dipakai (relevansi finansial, keterbandingan industri, kebutuhan regulator).
Hal-hal yang Sering Terlewat (dan Cara Menghindarinya)
Dalam penerapan awal, banyak perusahaan melakukan kesalahan yang sama. Berikut adalah beberapa jebakan umum:
Kesalahan: Menyebut “SASB” tanpa menyebut industrinya.
Solusi: Ini adalah pengungkapan yang tidak lengkap. Minimal sebut SICS industry dan topik yang digunakan; idealnya tambahkan kode metrik. Ini membuat metrik Anda dapat ditelusuri balik ke Technical Protocols SASB.
Kesalahan: Tidak menjelaskan alasan pemilihan panduan tematik.
Solusi: Jika Anda menambah CDSB (air/biodiversitas), jelaskan mengapa tema itu material bagi Anda, dan bagaimana ia mempengaruhi arus kas, posisi keuangan, atau akses pendanaan (terminologi IFRS S1).
Kesalahan: Tidak mengunci keselarasan periode & boundary.
Solusi: Pastikan periode data metrik (misal intensitas air) selaras dengan periode laporan keuangan. Jelaskan boundary (cakupan) pengungkapan—apakah hanya operasi sendiri atau mencakup rantai nilai. Definisi boundary sangat menentukan keterbandingan.
Kesalahan: Lupa menyebut keterkaitan dengan aturan lokal.
Solusi: Pengungkapan yang kuat secara global (patuh IFRS S1) bisa tetap dianggap “tidak lengkap” di yurisdiksi lokal jika tidak meng-address kewajiban POJK 51 (untuk entitas yang terkena). Selipkan satu paragraf ringkas tentang keselarasan ini.
Strategi "Best Practice" dalam Menyusun Bagian Sumber Panduan
Untuk membuat bagian "Dasar Penyusunan" Anda kuat, informatif, dan tahan uji (assurance-ready), pertimbangkan strategi berikut:
Susun sebagai Daftar Berhierarki. Buat struktur yang jelas bagi pembaca:
Kerangka Umum: “PSPK 1 (IFRS S1) – General Requirements.”
Kerangka Industri: “SASB Standards – SICS: [Kode–Nama]; topik: [daftar topik]; metrik: [kode metrik] (Technical Protocols).”
Kerangka Tematik (jika relevan): “CDSB Application Guidance – Water/Biodiversity.”
Cantumkan Versi/Tautan Resmi. Standar berevolusi. Sebutkan edisi atau versi standar yang Anda gunakan. Di laporan digital, tautan aktif ke laman resmi IFRS/ISSB & CDSB sangat membantu.
Terangkan Metodologi Pemilihan (Proses Materialitas). Satu paragraf singkat tentang bagaimana Anda menentukan topik (misalnya: proses materiality mapping), kriteria yang digunakan (relevansi finansial, eksposur risiko, ekspektasi regulator), dan konsultasi internal/eksternal yang dilakukan akan menambah bobot kepatuhan IFRS S1 secara signifikan.
Sediakan Matriks “Topik–Metrik–Sumber”. Untuk transparansi maksimal, buat tabel ringkas yang mengaitkan setiap topik material (misal: "Manajemen Air") dengan metrik yang dilaporkan, dan sumber rujukan spesifiknya (misal: "SASB EM-MM-140a.1" atau "CDSB Water Guidance, Indikator 4.1"). Ini sangat memudahkan auditor/assurance.
Menyatukan Global (PSPK 1) dan Lokal (POJK 51)
Kunci sukses di Indonesia adalah kemampuan menyatukan dua kerangka ini:
PSPK 1 (IFRS S1): Fokus pada risiko & peluang yang memengaruhi prospek perusahaan (investor-centric). Penekanannya ada pada keterkaitan keuangan (financial connectivity) dan metrik berbasis industri (SASB).
POJK 51/2017: Menetapkan kewajiban hukum untuk menyampaikan laporan keberlanjutan di Indonesia dan mengarahkan aspek-aspek konten serta pelaksanaan secara bertahap, seringkali dengan fokus pemangku kepentingan yang lebih luas.
Kabar baiknya, keduanya tidak bertentangan. Dengan menyebut rujukan PSPK 1/SASB/CDSB secara eksplisit, emiten meningkatkan keterbandingan global dan kredibilitas di mata investor, sambil tetap memenuhi substansi yang diminta oleh POJK 51. Bagian "Dasar Penyusunan" adalah jembatan yang menghubungkan kedua dunia ini.
Siap Menavigasi Kompleksitas Pelaporan PSPK 1?
Adopsi PSPK 1 dan PSPK 2 (IFRS S1 & S2), ditambah keharusan untuk tetap mematuhi POJK 51, bukanlah tugas yang ringan. Salah memilih rujukan, gagal mengidentifikasi industri SASB yang tepat, atau tidak transparan dalam metodologi dapat merusak kredibilitas laporan dan membuang sumber daya yang berharga.
Ketidakpastian dalam menentukan rujukan dapat mengaburkan pencapaian keberlanjutan Anda dan mengurangi kepercayaan investor pada data yang Anda sajikan.
Tim ahli di BATS Consulting siap membantu Anda. Kami menyediakan layanan Sustainability Reporting Advisory dan PSPK 1 Implementation Support untuk memandu Anda melalui setiap langkah—mulai dari pemetaan materialitas dan pemilihan standar, hingga penyusunan pengungkapan yang assurance-ready dan patuh regulasi.
Hubungi kami hari ini untuk memastikan laporan keberlanjutan Anda "Empower Your Next Step" dengan kredibilitas dan kejelasan.
This article is also available in English. Switch to English