GHG Protocol dan ISO Sepakat Satukan Standar Global pada 2027
Standar perusahaan yang terkonsolidasi merupakan langkah signifikan menuju integrasi dan harmonisasi akuntansi gas rumah kaca di seluruh dunia.
Dunia usaha yang beroperasi lintas negara selama ini kerap dipusingkan oleh satu masalah klasik: standar akuntansi emisi karbon yang berbeda-beda antar kerangka pelaporan. Masalah itu kini selangkah lebih dekat ke titik akhir. Pada 29 Juli 2026, Greenhouse Gas Protocol (GHGP) yang berbasis di Washington, DC, mengumumkan rencana besar untuk melebur standar akuntansi karbon korporatnya dengan standar milik Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) sebuah langkah yang disebut sebagai tonggak penting dalam upaya menyeragamkan cara dunia menghitung jejak gas rumah kaca.
Pengumuman ini tidak berdiri sendiri. GHGP juga membuka hasil konsultasi publik terkait standar Scope 2 dan merilis temuan awal dari proses pengembangan standar Actions and Market Instruments (AMI), dua inisiatif yang akan berjalan beriringan dengan proses konsolidasi standar tersebut.
Tiga Agenda yang Diumumkan Bersamaan
Secara garis besar, ada tiga hal yang diluncurkan GHGP dalam satu paket pembaruan ini:
Penggabungan standar akuntansi karbon korporat GHGP dengan standar ISO 14064-1 menjadi satu standar global yang harmonis.
Publikasi hasil konsultasi publik mengenai standar Scope 2.
Rilis umpan balik awal dari Permintaan Informasi (Request for Information) terkait proses pengembangan standar AMI, yang akan disinkronkan dengan pengembangan Scope 2.
Ketiganya saling terkait erat. Konsolidasi standar dengan ISO menjadi payung besar, sementara pembaruan Scope 2 dan AMI adalah komponen teknis yang akan menyatu ke dalam standar perusahaan yang baru tersebut.
Dari Kemitraan Menuju Standar Tunggal Berlogo Ganda
Kesepakatan ini melanjutkan kemitraan strategis yang sudah dijalin GHGP dan ISO sejak tahun lalu. Setelah melalui rangkaian diskusi dengan mitra dan pemangku kepentingan utama, kedua lembaga akhirnya menyelaraskan agenda pengembangan standar mereka menuju satu tujuan: menerbitkan standar korporat tunggal dengan merek bersama, lengkap dengan konsultasi publik terintegrasi yang dijadwalkan berlangsung pada kuartal kedua 2027.
Standar baru ini nantinya akan menyatukan empat komponen sekaligus, yaitu Scope 1, Scope 2, Scope 3, dan AMI dari GHGP, dengan standar ISO 14064-1. Bagi pelaku usaha, penggabungan ini berarti satu acuan pelaporan yang lebih efisien untuk diadopsi, alih-alih harus menyesuaikan dua kerangka berbeda yang selama ini berjalan paralel. Bagi proses penyusunan standarnya sendiri, konsolidasi ini juga membuka ruang partisipasi pemangku kepentingan yang lebih bermakna karena hanya ada satu jalur konsultasi publik yang terkoordinasi.
Langkah ini bukan kebetulan belaka, inisiatif ini merupakan salah satu tonggak yang secara eksplisit tercantum dalam Agenda Aksi COP30, sebagai bagian dari komitmen global untuk mempercepat harmonisasi akuntansi gas rumah kaca.
CEO GHG Protocol, Tim Mohin, menegaskan signifikansi langkah ini: "Standar perusahaan yang terkonsolidasi merupakan langkah signifikan menuju integrasi dan harmonisasi akuntansi gas rumah kaca di seluruh dunia. Bagi organisasi yang menerapkan standar ini untuk mengukur emisi gas rumah kaca mereka, satu standar perusahaan akan menyederhanakan pelaporan, mengurangi duplikasi, dan memberikan konsistensi yang lebih besar di berbagai pasar dan yurisdiksi. Hal ini pada gilirannya akan memungkinkan perusahaan untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengurangi emisi."
Dengan kata lain, konsolidasi ini diharapkan bukan sekadar penyederhanaan administratif, melainkan juga pengungkit bagi arus investasi yang lebih besar untuk mempercepat dekarbonisasi secara global. Karena dua standar akuntansi karbon yang paling banyak dipakai di dunia kini bergerak ke arah yang sama.
Suara dari 56 Negara: Apa Kata Publik soal Standar Scope 2?
Selagi proses konsolidasi berjalan, tim teknis dari GHGP dan ISO tetap melanjutkan pekerjaan pada masing-masing jalur pengembangan standar yang telah disepakati sebelumnya.
Salah satu hasil paling konkret datang dari konsultasi publik standar Scope 2, yang menjaring hampir 1.100 tanggapan dari 56 negara. Volume masukan sebesar ini menghasilkan beragam pandangan, terutama soal bagaimana seharusnya perusahaan mempertanggungjawabkan pembelian energi terbarukan dalam laporan emisinya. Meski pendapat soal metodenya beragam, ada satu benang merah yang cukup kuat: dukungan luas untuk meningkatkan akurasi, keterbandingan, dan integritas dalam akuntansi emisi listrik.
Menindaklanjuti masukan tersebut, GHGP tengah menjajaki beberapa pendekatan pelaporan alternatif yang mencerminkan berbagai "teori perubahan" upaya untuk mengakomodasi pandangan yang beragam dari hasil konsultasi publik. Setiap usulan lanjutan tetap akan melalui jalur baku pengembangan standar, mulai dari penyusunan oleh Kelompok Kerja Teknis hingga peninjauan dan persetujuan akhir oleh Dewan Standar Independen.
AMI dan Pendekatan "Multi-Pernyataan": Cerita Emisi yang Lebih Utuh
Pembaruan lain yang tak kalah penting datang dari alur kerja Actions and Market Instruments (AMI), yang juga akan menjadi bagian dari standar perusahaan hasil konsolidasi. Berdasarkan masukan yang terkumpul dari Permintaan Informasi terbaru, GHGP mengusulkan pendekatan pelaporan yang disebut "multi-pernyataan" (multi-statement).
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan melaporkan tiga komponen yang berbeda secara terpisah namun saling melengkapi:
Emisi fisik — emisi yang berasal langsung dari operasi dan rantai nilai perusahaan sendiri.
Emisi berbasis pasar — emisi yang terkait dengan instrumen pasar, seperti sertifikat komoditas dan perjanjian kontrak terkait mitigasi.
Pernyataan dampak GHG — dampak emisi dari tindakan dan keputusan investasi perusahaan, dihitung menggunakan metode konsekuensial.
Dari sisi respons publik, pendekatan tiga lapis ini mendapat dukungan yang cukup kuat karena dianggap mampu memberikan gambaran yang lebih lengkap dan transparan mengenai tindakan iklim, penggunaan instrumen pasar, serta hasil emisi sebuah perusahaan — bukan hanya angka tunggal yang menyederhanakan realitas yang sebenarnya kompleks.
Tim Mohin menutup pernyataannya dengan menegaskan arah besar dari standar AMI ini: "Standar AMI akan membantu organisasi menceritakan kisah yang lebih jelas dan kredibel tentang kinerja iklim secara keseluruhan — kisah yang tidak hanya mencerminkan emisi yang mereka hasilkan, tetapi juga tindakan yang mereka ambil untuk menguranginya dan kontribusi mereka terhadap dekarbonisasi di dunia nyata."
Apa Artinya Bagi Perusahaan yang Melapor?
Bagi tim keberlanjutan dan pelaporan emisi di berbagai perusahaan, rangkaian pembaruan ini layak dipantau sejak sekarang, meski implementasi penuhnya baru akan terwujud melalui konsultasi publik pada kuartal kedua 2027. Setidaknya ada tiga hal yang patut diantisipasi: penyatuan acuan pelaporan GHGP dan ISO 14064-1 yang berpotensi mengubah cara perusahaan menyusun laporan emisi lintas yurisdiksi, kemungkinan skema pelaporan Scope 2 yang baru sebagai hasil dari konsultasi dengan 56 negara, dan model pelaporan AMI berbasis "multi-pernyataan" yang menuntut perusahaan memisahkan emisi fisik, emisi berbasis pasar, dan dampak dari tindakan iklim mereka.
Dengan mayoritas standar akuntansi karbon dunia usaha kini bergerak menuju satu kerangka bersama, perusahaan yang sudah mulai memetakan kesiapan datanya lebih awal akan memiliki keunggulan saat standar baru resmi diberlakukan.
This article is also available in English. Switch to English