Design Thinking untuk Keberlanjutan: Kerangka 4 Tahap ESG

Komitmen keberlanjutan yang bagus di atas kertas sering kali gagal saat dijalankan — bukan karena kurang niat atau teknologi, tetapi karena masalahnya dirumuskan keliru sejak awal atau keberhasilannya diukur terlalu sempit. Di sinilah design thinking menawarkan jalan keluar: sebuah disiplin terstruktur namun iteratif yang memaksa organisasi memahami persoalan sebelum melompat ke solusi.

oleh Admin BATS
7 menit baca
75 dilihat
Bagikan:
Design Thinking untuk Keberlanjutan: Kerangka 4 Tahap ESG

Design Thinking untuk Keberlanjutan: Dari Ambisi ESG ke Intervensi yang Bisa Diuji

Sub-judul (ID): Design thinking menawarkan pendekatan yang terstruktur sekaligus iteratif untuk membantu organisasi menerjemahkan kompleksitas tantangan keberlanjutan menjadi intervensi yang dapat dijalankan dan diuji.


Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan, banyak organisasi menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana mengubah komitmen keberlanjutan yang masih bersifat aspiratif menjadi program yang nyata dan terukur, tanpa sekadar memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain? Salah satu pendekatan yang dapat digunakan berasal dari disiplin yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan desain produk dan inovasi teknologi, yaitu design thinking.

Design thinking merupakan pendekatan yang terstruktur tetapi iteratif untuk memahami tantangan yang kompleks, merumuskan persoalan, dan mengembangkan solusi melalui keterlibatan pemangku kepentingan, eksperimen, serta pembelajaran berkelanjutan. Dalam konteks keberlanjutan, pendekatan ini memungkinkan pengalaman manusia dipertimbangkan bersama analisis sistem, termasuk hubungan antara dampak lingkungan, sosial, dan kepentingan bisnis.

Mengapa Keberlanjutan Menuntut Cara Berpikir yang Berbeda

Tantangan keberlanjutan jarang memiliki satu penyebab atau satu solusi yang jelas. Persoalan seperti dekarbonisasi rantai pasok, pengelolaan air, atau transisi menuju ekonomi sirkular melibatkan banyak pemangku kepentingan, dampak lingkungan dan sosial yang saling terkait, serta prioritas yang tidak selalu sejalan. Sebuah intervensi pada satu bagian sistem juga dapat menimbulkan konsekuensi pada bagian lain sepanjang rantai nilai. Karakter seperti ini kerap dijelaskan melalui konsep wicked problems, yaitu persoalan dengan batas yang sulit ditentukan dan solusi yang dapat memunculkan persoalan baru.

Dalam kondisi seperti ini, pendekatan linier yang lazim digunakan dalam manajemen proyek konvensional tidak selalu memadai. Menetapkan target penurunan emisi tanpa memahami bagaimana perubahan tersebut memengaruhi pemasok kecil, misalnya, dapat menghasilkan pencapaian di tingkat perusahaan tetapi menambah beban pada pihak lain di sepanjang rantai pasok. Design thinking memberi ruang untuk memeriksa kembali bagaimana persoalan didefinisikan sebelum organisasi menentukan solusi.

Kerangka empat tahap yang dibahas di sini sejalan dengan model Double Diamond yang dipopulerkan oleh Design Council Inggris sejak 2004. Kerangka ini membagi proses inovasi ke dalam empat fase, yaitu Discover, Define, Develop, dan Deliver. Prosesnya bergerak secara divergen dan konvergen: memperluas eksplorasi, mempersempit fokus, dan mengulangi pola tersebut saat mengembangkan dan memilih solusi. Dalam konteks keberlanjutan, pola ini membantu organisasi menghindari keputusan yang terlalu dini ketika persoalannya sendiri belum sepenuhnya dipahami.

Tahap 1: Discover, Memahami Sebelum Bertindak

Fase pertama menuntut organisasi untuk melibatkan pemangku kepentingan yang terdampak, memahami pengalaman mereka, serta memetakan dampak, ketergantungan, dan hubungan yang mengelilingi persoalan tersebut. Proses ini tidak cukup dilakukan melalui survei pemangku kepentingan yang bersifat formal. Organisasi juga perlu memahami kondisi pihak yang paling merasakan konsekuensi dari suatu keputusan, mulai dari pekerja dan masyarakat sekitar hingga pemasok dan konsumen akhir.

Pada tahap ini, organisasi juga menetapkan baseline dan batas yang akan menentukan cakupan analisis serta cara kemajuan diukur. Tanpa baseline yang jelas, perubahan yang dihasilkan oleh sebuah program akan sulit dinilai secara konsisten. Batas analisis juga perlu ditentukan dengan hati-hati agar organisasi mengetahui apa yang masuk dalam penilaian sekaligus tetap memperhatikan dampak penting yang mungkin terjadi di luar cakupan tersebut.

Tahap 2: Define, Menerjemahkan Bukti Menjadi Masalah yang Dapat Ditindaklanjuti

Setelah bukti terkumpul, tahap kedua digunakan untuk menerjemahkannya menjadi rumusan masalah yang lebih fokus dan dapat ditindaklanjuti. Dalam konteks ini, konsep double materiality atau materialitas ganda dapat digunakan untuk melihat persoalan dari dua sisi. Organisasi perlu menilai materialitas dampak, yaitu bagaimana aktivitasnya memengaruhi lingkungan dan masyarakat, serta materialitas finansial, yaitu bagaimana isu keberlanjutan dapat memengaruhi kondisi dan prospek finansial perusahaan. Pendekatan tersebut kini menjadi bagian penting dalam kerangka pelaporan seperti Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) di Uni Eropa.

Dari penilaian tersebut, organisasi dapat mengidentifikasi peluang intervensi yang paling relevan sekaligus menetapkan kriteria keberhasilan dan kriteria diskualifikasi. Kriteria diskualifikasi mengacu pada kondisi yang membuat suatu opsi tidak layak untuk dilanjutkan meskipun menawarkan manfaat tertentu. Sebuah solusi, misalnya, dapat menghasilkan efisiensi biaya atau penurunan emisi, tetapi tetap perlu dikesampingkan apabila menimbulkan dampak sosial yang tidak dapat diterima atau memindahkan beban ke bagian lain dari sistem.

Tahap 3: Develop, Memberi Ruang bagi Alternatif Sebelum Berkomitmen

Tahap ketiga merupakan fase yang lebih eksploratif. Organisasi mengembangkan beberapa intervensi potensial, membuat prototipe, menguji asumsi yang mendasarinya, lalu membandingkan alternatif berdasarkan dampak yang diharapkan, keadilan (equity), dan kelayakan (viability). Intervensi tersebut tidak harus berupa produk baru, tetapi dapat berupa perubahan proses, kebijakan, teknologi, model kemitraan, atau model bisnis.

Dimensi keadilan penting untuk diperhatikan karena solusi yang paling efisien dari sisi biaya belum tentu mendistribusikan manfaat dan beban secara proporsional. Dalam transisi energi, misalnya, pilihan yang efisien bagi sistem secara keseluruhan dapat menimbulkan biaya yang lebih besar bagi rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok pekerja tertentu. Dengan memasukkan pertimbangan keadilan bersama dampak dan kelayakan sejak tahap pengembangan, organisasi dapat melihat sejak awal siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang mungkin menanggung biaya dari suatu intervensi. Penggunaan prototipe juga memungkinkan asumsi diuji dalam skala yang lebih kecil sebelum sumber daya yang lebih besar dialokasikan.

Tahap 4: Deliver, Mengukur, Memverifikasi, dan Memeriksa Efek Samping

Pada fase terakhir, intervensi terpilih mulai dijalankan atau diuji sebagai pilot. Kinerjanya kemudian dibandingkan dengan baseline yang telah ditetapkan. Pada saat yang sama, organisasi perlu memeriksa konsekuensi yang tidak direncanakan, termasuk rebound effect dan burden shifting, karena perbaikan pada indikator utama belum tentu menunjukkan perbaikan pada sistem secara keseluruhan.

Efek rebound (rebound effect) merupakan fenomena ketika peningkatan efisiensi menurunkan biaya penggunaan dan kemudian mendorong peningkatan konsumsi, sehingga sebagian manfaat yang diharapkan berkurang. Kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, misalnya, dapat menurunkan biaya per kilometer dan mendorong seseorang untuk berkendara lebih jauh. Sementara itu, burden shifting terjadi ketika sebuah solusi memperbaiki satu indikator lingkungan tetapi memperburuk indikator lain, atau ketika dampak berpindah dari satu bagian rantai nilai ke bagian lain. Penurunan emisi pada operasi perusahaan sendiri, misalnya, belum tentu mencerminkan penurunan emisi secara keseluruhan jika aktivitas beremisi tinggi hanya berpindah ke pemasok di hulu.

Pemeriksaan terhadap kedua fenomena tersebut penting dalam menilai klaim keberhasilan program keberlanjutan. Sebuah inisiatif tidak cukup dinilai hanya dari perubahan indikator di dalam batas proyek. Organisasi juga perlu melihat apakah intervensi tersebut menimbulkan konsekuensi di luar cakupan pengukuran awal. Karena proses design thinking bersifat iteratif, temuan pada tahap Deliver dapat digunakan untuk meninjau kembali asumsi, definisi masalah, maupun desain intervensi pada siklus berikutnya.

Konteks dan Implikasi bagi Organisasi

Elemen-elemen dalam kerangka ini sebenarnya bukan hal baru dalam praktik keberlanjutan. Materialitas ganda, analisis rebound effect, penetapan baseline, maupun keterlibatan pemangku kepentingan telah digunakan dalam berbagai disiplin dan kerangka. Design thinking membantu menempatkan elemen-elemen tersebut dalam satu alur kerja yang memungkinkan organisasi memahami persoalan terlebih dahulu sebelum menentukan dan menguji intervensi. Dalam praktiknya, program keberlanjutan dapat menghadapi masalah bukan karena kurangnya teknologi atau komitmen, tetapi karena persoalan dirumuskan terlalu sempit, asumsi tidak diuji, atau keberhasilan diukur dengan batas yang tidak cukup luas.

Pendekatan ini tentu memiliki keterbatasan. Design thinking membutuhkan waktu, keterampilan fasilitasi, data yang memadai, serta kesediaan organisasi untuk menghadapi ketidakpastian pada tahap awal. Proses yang iteratif juga dapat membutuhkan sumber daya tambahan dan menjadi sulit dikelola apabila tidak disertai kriteria keputusan yang jelas. Dalam organisasi dengan tekanan target dan pelaporan jangka pendek, ruang untuk eksplorasi semacam ini juga tidak selalu tersedia.

Bagi organisasi yang sedang membangun atau memperbaiki strategi keberlanjutan, kerangka ini dapat digunakan untuk memperkuat proses sebelum intervensi dijalankan. Baseline dan batas analisis perlu ditetapkan sejak awal, kriteria keberhasilan perlu disertai kondisi yang membuat suatu solusi tidak dapat diterima, dan pertimbangan terhadap dampak serta kelayakan perlu memasukkan distribusi manfaat dan beban. Setelah program berjalan, evaluasi juga perlu mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi di luar indikator dan batas proyek yang telah ditentukan.


This article is also available in English. Switch to English